Sisi Lain Industri Pariwisata di Indonesia

Saat libur tiba tempat wisata akan mulai kebanjiran pesanan reservasi baik dari turis domestik maupun manca negara. Apalagi kini liburan adalah hal yang menjadi trend di kalanagan millenial.

Tekanan pekerjaan yang terasa makin berat dan beragam membuat banyak orang ingin mencari cara untuk melepas kepenatan. Berburu tempat wisata yang sering dikunjungi atau yang sering muncul pada feed instragram sampai tempat indah di pelosok pun adalah hal yang lumrah pagi para traveler dari kalangan ini.

Layanan televisi bahkan membuat program yang secara khusus memperkenalkan dan memandu para penontonnya ke tempat wisata. Sebut saja yang paling terkenal yakni My Trip My Adventure dari Trans TV. Industri pariwisata juga menjadi primadona yang diagungkan di negaranya masing-masing.

Selain menjadi sarana peningkatan devisa, pariwisata dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat sekitarnya. Beberapa industri pariwisata sukses mengantarkan negara mereka terkenal di kancah internasional bahkan menjadi ikon negara tersebut.

Sebut saja Korea Selatan dengan Pulau Jeju, Indonesia dengan Balinya, dan Jepang dengan Gunung Fujinya.

Disamping sisi positifnya sebagai hiburan dan peningkat taraf ekonomi, sisi pariwisata yang ramah lingkungan juga harus ikut diperhatikan. Menjamurnya hobi wisata di tanah air misalnya membuat beberapa kawasan yang dulunya merupakan pantai atau hutan biasa kini disulap agar bisa instagramable saat dikunjungi.

Pembukaan lahan, pembangunan pendopo, dan rumah singgah di daerah wisata harus turut mempertimbangkan kebutuhan makhluk hidup lain di tempat tersebut. Sebab alam diciptakan untuk tidak dinikmati oleh manusia saja.

Meningkatnya kedatangan turis ke tempat wisata di Indonesia biasanya lekat dengan meningkatnya volume sampah buangan. Beberapa tempat wisata bahkan belum bisa memanage pengungjung untuk membuang sampah pada tempatnya.

Wisatawan datang berlibur dengan membawa makanan, dan perlengkapan piknik namun, ketika pulang biasanya mereka lupa untuk membawa kembali sampah-sampah tersebut bersama mereka atau bahkan lupa untuk sekadar menumpuknya pada tempat pembuangan sampah.

Mulai dari botol bekas minum, tempat makan sekali pakai, kantong plastik, makanan sisa, plastik alas duduk, dan masih banyak lainnya. Padahal menjaga keasrian dan kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab bersama sebagai manusia.

Sampah plastik yang bertumpuk di pesisir Pantai Kuta adalah contoh bagaimana permasalahan limbah menutup wajah ikon pariwisata negara. Dikutip dari Tribun Bali, hasil penelitian Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana mengungkapkan sebesar tujuh puluh sampai delapan puluh persen sampah di Pantai Kuta adalah plastik.

Mayoritas plastik berasal dari aktivitas di darat. Padahal plastik tidak hanya menggangu pemandangan namun, dalam waktu lama jika tidak disikapi dengan bijak oleh semua pihak dapat menjadi sumber cemaran. Cemaran berupa makro sampai dengan mikroplastik juga dapat menggangu keseimbangan ekosistem pantai dan laut di sekitar Kuta.

Menangani masalah ini tentu butuh banyak pihak bergandengan tangan dan bahu membahu. Masyarakat, pengelola pariwisata, sampai dengan pengungjung adalah individu yang harus bekerjasama dan bersinergi dalam memperbaiki sisi buruk industri pariwisata yang ini.