Fanatisme Suporter Sepak Bola Bangsa Indonesia

Sepak bola kini merupakan salah satu olahraga yang paling banyak diminati di dunia. Hal tersebut turut menjadikan Piala Dunia sebagai momen yang banyak ditunggu oleh orang-orang meskipun negaranya tidak masuk kualifikasi dalam ajang tersebut.

Bahkan beberapa orang yang hariannya skeptis terhadap sepak bola terkadang menjadi melek dan ikut saat nonton bareng (Nobar) yang dibuka dimana-mana.

Sejarah mencatat bahwa olahraga ini dilahirkan di Tiongkok pada abad kedua atau ketiga sebelum masehi. Disandur dari Wikipedia, olahraga menggiring bola ini sudah ada sejak zaman Dinasti Han.

Permainan serupa juga turut berkembang di Jepang dengan nama Kemari. Era sepak bola modern dimulai dan berkembang di Inggris, bahkan sempat terdapat kompetisi besar untuk permainan menedang bola ini.

Berkembangnya zaman tak membuat olahraga ini dilupakan. Pada tahun 1863 untuk pertama kalinya beberapa orang berkumpul untuk bermain dengan merumuskan beberapa aturan baru dalam permainannya. Sepak bola terus berkembang hingga terbantuk asosiasi tertinggi sepak bola dunia yakni FIFA.

Bicara tentang sepak bola tentu lebih baik lengkap dengan orang-orang yang menggemarinya. Semakin banyak klub sepak bola yang terbentuk turut membuat orang-orang yang menyukainya juga muncul ke permukaan dan menggolongkan diri mereka ke dalam kelompok-kelompok homogen.

Orang-orang yang disebut suporter ini selanjutnya menamai kelompok mereka agar mudah diingat dan terlihat oleh kelompok lainnya. Sayangnya, pelabelan suporter ini juga menimbulkan fanatisme sepak bola yang acapkali dinilai berlebih.

Mengikuti setiap pertandingannya bisa jadi motto utama untuk para suporter sepak bola. Namun, rasa fanatisme ini kadang memicu beberapa aksi kekerasan jika tim yang didukung kalah. Dalam sebuah penelitian berjudul Fanatisme dan Agresifitas Supporter Klub Sepak Bola, suporter indonesia disebut merupakan salah satu suporter terfanatik setelah Inggris dan Argentina.

Di dalam peneltian disebutkan bahwa sumber pertikaian dan perkelahian antar suporter disebabkan karena fanatisme. Fanatisme juga diduga menjadi penyebab menguatnya perilaku kelompok yang tak jarang berakibat pada perilaku agresif.

Jika dilihat dari sisi psikologis, agresifitas disebut sebagai usaha atau tingkah laku yang sengaja dilakukan untuk melukai atau menghancurkan orang lain baik fisik maupun psikis. Apabila seseorang berasa dalam situasi massa atau sedang bergerombol akan lebih cenderung bersikap agresif karena adanya tindakan deindividuasi.

Deindividuasi merupakan keadaan dimana seseorang merasa dia adalah bagian dari massa dan kehilangan identitas sosialnya dalam hal personal. Jika menilik lebih dalam pada kasus kekerasan suporter sepak bola tanah air, memang tindak kekerasan tersebut dilakukan secara berkelompok.

Beberapa catatan kelam fanatisme sepak bola tanah air pernah diangkat dalam Mata Najwa setahun lalu dalam episode Duka Bola Kita. Catatan kelam ini menambah jumlah korban meninggal dunia akibat kisruh kalah-menang tim idola.

padahal sangat tidak benar menukar suka-duka kita akan sesuatu dengan hak hidup sesorang. “Sesuatu yang berlebihan selalu tidak baik” sekiranya adalah kata yang tepat untuk menengahi hal ini. Membangun kesadaran bersama akan pentingnya perdamaian dalam perbedaan harusnya sudah lekat dengan pribadi bangsa kita.

Budaya anarkis dalam dunia suporter harus dikubur dalam-dalam dan tidak kembali diulangi. Sebagai negara yang sangat menggemari sepak bola mari kita bangun budaya sehat dengan menghindari fanatisme didalamnya.